INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

Filosofi Sains: Popper, Kuhn, dan Lainnya

Oleh: Indira Agustin (071012006)

 

Sains yang biasa kita kenal dengan istilah ilmu pengetahuan identik dengan ranah pengetahuan eksakta. Padahal terdapat ranah non eksakta yang juga memerlukan porsi secara ilmiah untuk dapat menjelaskan fenomena-fenomena sosial yang tidak dapat dijelaskan secara eksakta. Oleh karena itu diperlukan definisi yang jelas mengenai konsepsi sains tersebut supaya dapat digunakan secara relevan baik dalam ranah keilmuan yang eksakta maupun non-eksakta. Akan tetapi di kalangan ilmuwan sendiri terdapat perdebatan mengenai konsep sains terhadap ranah keilmuan sosial. Sementara itu sebagai sebuah disiplin ilmu, filosofi sains—Philosophy of Science–memiliki kaitan erat terhadap beberapa hal, yaitu the history of science, yakni bagaimana sejarah dari sebuah ilmu berkembang; the sociology of knowledge, yakni bagaimana kondisi sosial dari lingkungan ilmu tersebut memberikan pengaruh terhadap perkembangannya; dan the psychology of research, yakni bagaimana seorang ilmuwan dapat mengembangkan cara pandang serta interpretasinya terhadap ilmu tersebut (Smith, 2000:6). Dalam perkembangannya terdapat banyak filsuf sains, seperti Karl Popper, Thomas Kuhn, Imre Lakatos, serta Larry Laudan. Masing-masing dari mereka memiliki pandangan yang berbeda satu sama lain mengenai apa itu sains serta bagaimana proses sebuah pengetahuan menjadi sains, sehingga tidak jarang menjadi sebuah perdebatan.

Karl Popper mengemukakan bahwa tidak ada kebenaran yang mutlak dalam sains. Ia mengedepankan metode deduktif untuk memperoleh sebuah teori, di mana diperlukan observasi dan eksperimen terhadap sebuah hipotesis secara berkelanjutan untuk menguji deduksi tersebut hingga terbukti salah, kemudian hipotesis tersebut diubah hingga memperoleh kebenaran atas hasil uji berdasarkan observasi (Smith, 2000:9). Sehingga dari hal ini kemudian diperoleh dua poin yang saling berkaitan, yaitu pertama, bahwa sebuah teori tidak dapat dikatakan benar-benar betul dan justru dapat disalahkan—can be falsified; dan kedua, bahwa semua pengetahuan sifatnya sementara, dan masing-masing tidak sepenuhnya benar (Smith, 2000:11). Namun secara subjektif kita dapat memilih dari beberapa pengetahuan tersebut yang menurut kita relevan.

Pemikiran Popper tersebut tidak lain dipengaruhi oleh gugurnya teori Newton mengenai kaitan hukum gaya tarik gravitasi dengan pergerakan planet dalam sistem tata surya, yang kemudian digantikan oleh teori relativitas Einstein yang rupanya mampu memberikan prediksi pergerakan planet dengan lebih tepat (Smith, 2000:11). Hal inilah yang memberikan keraguan kepada Popper mengenai ketepatan sebuah teori. Sehingga menurut Popper, teori tidak dapat dijamin kebenarannya, teori justru dapat disalahkan dan bahwa penyalahan tersebut merupakan kriteria untuk dapat memisahkan antara mana yang sains dan bukan sains (Smith, 2000:11). Hal yang dapat ditekankan mengenai pembedaan tersebut berasal dari adanya penggunaan persepsi yang berasal dari prakonsepsi dari sisi psikologis setiap orang yang tentu berbeda-beda. Untuk dapat dikategorikan sebagai sains, maka suatu hal harus dapat difalsifikasi. Suatu hal yang tidak dapat difalsifikasi maka tidak dapat dikategorikan sebagai sains, misalnya adalah hal yang bersifat dogmatis seperti teologi atau hal yang relatif seperti seni. Sementara sains sendiri tidak dapat dibuktikan kebenarannya hanya dengan berdasar pada persepsi dan prakonsepsi yang relatif.

Bertentangan dengan Popper, Thomas Kuhn justru beranggapan bahwa sains tidak dapat begitu saja tunduk kepada adanya kritik dan falsifikasi, sebab ia mengedepankan adanya paradigma sebagai inti dari sains. Sains dipahami sebagai sebuah paradigma yang diterima secara baik, di mana paradigma sendiri dalam pandangan Kuhn merupakan sekumpulan asumsi dasar, atau cara untuk memecahkan masalah (Smith, 2000:13). Untuk dapat diterima, sebuah asumsi tidak dapat begitu saja menjadi sebuah paradigma yang diterima secara luas, melainkan terdapat sebuah pre-paradigm yang diperoleh secara fairly random fact-gathering untuk kemudian diobservasi dan diterapkan sebagai accepted paradigm sehingga menjadi normal science. Sains normal itu sendiri pada masa tertentu akan mengalami anomali, akibat perkembangan jaman yang tidak lagi sesuai dengan paradigma yang ada, dan Kuhn menyebutnya sebagai krisis akibat adanya kompetisi dari beberapa paradigma (Laudan, 1977:370). Krisis tersebut kemudian memunculkan paradigma yang lebih superior dan benar secara empiris dibandingkan paradigma yang sudah ada sebelumnya, yang ia sebut sebagai revolutionary science (Smith, 2000:14). Dari revolusi sains tersebut kemudian muncul periode baru bagi normal sains, yang juga akan mengalami siklus yang sama.

Kuhn menganggap adanya peranan dari sisi sejarah sebuah ilmu pengetahuan (history of science) bagi perkembangan ilmu itu sendiri di masa selanjutnya. Serangkaian asumsi dasar yang kemudian menjadi sains pada masa sebelumnya merupakan pedoman, panduan, atau petunjuk bagi berkembangnya sains di masa sekarang dan di masa depan. Bagi Kuhn, untuk dapat membedakan ranah sains dan non-sains bukan berdasarkan falsifikasi, namun berdasarkan problem-solving activity menggunakan paradigma yang ada (Smith, 2000:15).

Sementara itu terdapat Imre Lakatos yang berusaha menjadi penengah bagi konsep sains yang dibawa oleh Popper dan Kuhn. Lakatos tidak sepakat dengan Popper mengenai konsep falsifikasi untuk membedakan mana yang sains dan bukan namun ia setuju dengan ide kemajuan ilmiahnya. Di sisi lain, Lakatos menolak konsep relativisme Kuhn tetapi ia sepakat dengan ide bagaimana ilmu memiliki alur perubahan tertentu (Lakatos, 1970 dalam Smith, 2000:17). Konsep yang dibawa oleh Lakatos mengenai sains adalah ‘scientific research programme’ atau program riset ilmiah yang mencakup serangkaian teori dan metode yang dapat berubah sewaktu-waktu. Di dalam serangkaian konsep tersebut, terdapat sebuah asumsi dasar yang merupakan ide utama yang tidak dapat berubah, disebut dengan ‘hard core’, di mana untuk mendukung ide utama tersebut terdapat beberapa hipotesa pendukung yang fleksibel yang selalu dapat dipertanyakan kebenarannya (Smith, 2000:18). Sehingga untuk dapat memperoleh kebenaran sebuah sains (serta untuk dapat membedakannya dengan bukan sains), diperlukan adanya riset ilmiah, tidak hanya sekedar falsifikasi atau penyetujuan masal atas paradigma. Konsep yang dibawa oleh Lakatos dapat dikatakan lebih matang daripada dua konsep sebelumnya, sebab ia memasuki ranah yang lebih rasional yakni riset ilmiah. Konsep awal dari riset tersebut berkembang menjadi sebuah tradisi riset (research tradition), yang lebih jauh lagi menjadi semakin kompleks karena tidak hanya terpaku pada tujuan pembenaran sebuah asumsi melainkan melakukan pengujian terhadap keseluruhan poin yang berkaitan dengan asumsi tersebut.

Laudan mengartikan research tradition sebagai asumsi umum mengenai suatu hal dan proses dalam sebuah bidang keilmuan, serta mengenai ketepatan metode yang digunakan untuk meneliti permasalahan dan membangun teori-teori dalam bidang keilmuan tersebut (Laudan, 1977:374). Misalnya adalah teori empirisme dan nominalisme dalam filosofi, marxisme dan kapitalisme dalam ekonomi, dan lain-lain. Selain riset, hal lain yang perlu dicermati adalah logic of discovery. Kedua hal inilah yang menjadi sorotan perdebatan dari Kuhn dan Popper. Di mana Kuhn terlihat lebih mengedepankan pentingnya discovery atau penemuan terhadap hal-hal yang baru, yang lebih jauh lagi hal ini akan mengarah paradigma baru yang akan muncul. Sementara Popper mengutamakan adanya research untuk memberikan pembuktian bagi falsifikasi suatu teori. Sehingga kesamaan yang dapat ditarik dari keduanya adalah keduanya merupakan sebuah metode bagi suatu sains untuk dapat dikembangkan melalui adanya pembaruan teori yang dikemukakan melalui serangkaian proses baik discovery maupun research.

Penulis menyimpulkan bahwa untuk dapat menjawab apa itu sains dan bagaimana pendekatannya tersirat dari filosofi sains yang dikemukakan oleh beberapa ilmuwan di atas. Pada intinya sains merupakan sebuah aktivitas pemecahan masalah melalui teori yang dihasilkan dari beberapa pendekatan yang ada. Penulis sendiri lebih sepakat dengan pendapat Laudan bahwa untuk mendapatkan sebuah teori diperlukan serangkaian riset ilmiah yang rasional sehingga dapat dipercaya. Meskipun pada akhirnya sains tersebut selalu mengalami perubahan melalui metode-metode yang dapat mengidentifikasi terjadinya perubahan tersebut.

 

Referensi:

Kuhn, Thomas. 1970. “Logic of Discovery or Psychology of Research?” dalam Imre Lakatos and Alan Musgrave, Criticism and the Growth of Knowledge, Cambridge: Cambridge Univesity Press, pp. 1-22

Laudan, Larry, 1977. From Theories to Research Tradition, California: University of California Press, pp. 70-120

Popper, Karl. 1970. “Normal Science and Its Danger”, dalam Imre Lakatos and Alan Musgrave, Criticism and the Growth of Knowledge, Cambridge: Cambridge Univesity Press, pp. 51-58

Smith, Peter K. 2000. “Philosophy of Science and Its Relevance for the Social Sciences”, dalam Dawn Burton (ed.), Research Training for Social Scientists, London: Sage Publications, pp. 4-20

 


1. wahyudi

pada : 13 September 2013

"teriamaksih ya"


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :