INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

Ilmu Hubungan Internasional sebagai Sains

Oleh: Indira Agustin (071012006) 

Konsep dasar dari ilmu Hubungan Internasional kiranya telah ada sejak konsep polis digunakan pada jaman Yunani Kuno, yakni konsep praktis yang diterapkan oleh city-states yang saling mengirimkan dutanya sebagai delegasi yang merepresentasikan kepentingan negara-kotanya, meskipun dalam konteks yang masih sederhana. Studi Hubungan Internasional sendiri mulai dikembangkan untuk menjadi subjek akademik sosial pada awal abad ke-20 seiring dengan berakhirnya Perang Dunia I, yang menghasilkan dampak traumatis dan memunculkan dorongan untuk mencegah tragedi tersebut terulang dengan cara mulai membuat kajian terhadapnya (Jackson & Sorensen, 1999:46). Namun apakah dengan demikian lantas subjek Hubungan Internasional dapat disebut sebagai sebuah sains atau ilmu pengetahuan? Jika benar demikian seberapa scientific-kah kajian ilmu Hubungan Internasional ini apabila ditinjau dari perspektif filosofi sains?

Charles A. McClelland dalam artikelnya yang berjudul International Relations: Wisdom or Science? (1969) mempertanyakan keberadaan Hubungan Internasional sebagai sebuah sains. Sebab terdapat bias dalam kajian Hubungan Internasional ini hanya merupakan wisdom atau layak disebut sebagai sains, ketika ia hanya memelajari masa lalu tanpa memberikan penjelasan atas kelanjutan darinya. Dari sisi metode filosofi sains, terdapat beberapa filsuf sains yang mampu menunjukkan sisi ilmiah dari Hubungan Internasional seperti Karl Popper dan Thomas Kuhn. Di samping itu subjek Hubungan Internasional dapat disebut sebagai sebuah sains ketika dilihat dari kacamata behavioralisme, yakni ketika data-data empiris hubungan internasional dikumpulkan dan kemudian dilakukan pengukuran, klasifikasi, generalisasi, hingga tahap pengesahan hipotesis, yang menjelaskan pola-pola perilaku secara ilmiah (Jackson & Sorensen, 1999:60). Sementara Raymond Platig (1967) dalam artikelnya International Relations as a Field of Inquiry mengemukakan bahwa diperlukan keteraturan, tema, dan disiplin area permasalahan untuk membuat sebuah bidang penelitian—field of inquiry. Sebab menurutnya Hubungan Internasional merupakan sebuah bidang penelitian yang buruk, akibat keserbaragaman program penelitian dan persaingan strategi, yang menyebabkan bidang penelitian tersebut menjadi tumpang-tindih dan terisolasi (Platig, 1967:11).

Oleh karenanya untuk dapat menganalisa tingkat keilmiahannya—scientific, Platig (1967) memberikan beberapa prasyarat kajian, yakni kajian persiapan, kajian inti, serta ruang lingkup bagi Hubungan Internasional supaya ia siap disebut sebagai sebuah field of study.

Terdapat empat kajian persiapan. Kajian persiapan yang pertama adalah kekuatan (power), di mana kemampuan aktor internasional untuk dapat mengerahkan kekuatannya untuk memengaruhi dan mengontrol perilaku dari aktor lainnya. Kajian persiapan yang kedua adalah persebaran kekuatan (distribution of power), di mana persebaran kekuatan dalam skala global merupakan hal yang penting dalam kajian dari Hubungan Internasional, siapa yang memiliki kekuatan yang dominan dan siapa yang tidak. Kajian persiapan yang ketiga yakni pemerintah (government), yakni pihak yang menerapkan dan menggunakan kekuatan sebagai negara yang berdaulat, yang dengan demikian ia berinteraksi dengan entitas sesamanya dalam skala global. Kajian persiapan yang keempat yaitu kedaulatan (sovereignty), di mana setiap entitas negara saling memiliki legitimasi dan tidak berhak untuk mencampuri urusan dalam negeri negara lain (Platig, 1967:13-5).

Sementara itu terdapat tiga hal yang menjadi kajian inti dari Hubungan Internasional menurut Platig (1967), antara lain (1) bentuk hubungan antar pemerintahan, misalnya apakah hubungan tersebut merupakan hubungan diplomatik, militer, ataukah ekonomi; (2) sistem politik, sebab sistem politik yang digunakan oleh suatu negara akan berdampak pada bentuk kerjasama yang dijalinnya dengan negara lain; (3) aktor, mereka yang menjalin relasi kerjasama lintas batas apakah hanya atas nama negara, atau terdapat aktor selain pemerintah, seperti organisasi internasional, aktor multinasional, individu sebagai volunteer, ataupun kelompok-kelompok kepentingan tertentu berdasarkan agama dan ideologi (Platig, 1967:16-7).

Masih menurut Platig (1967), yang menjadi ruang lingkup bagi Hubungan Internasional adalah faktor-faktor intra negara dan sistem sosial internasional yang mana keduanya akan memberikan pengaruh terhadap bagaimana pemerintah mengggunakan kekuatan yang dimilikinya untuk memaksimalkan potensi negaranya serta bagaimana hal tersebut berdampak pada perilakunya dalam sistem politik multinasional. Implikasinya, Hubungan Internasional sebagai sains akan lebih banyak menggunakan metode analisis politik yang multilevel, yakni tingkat nasional, regional, juga internasional.

Bidang analisis Hubungan Internasional yang multidisipliner membuatnya lebih mudah memberikan penjelasan atas perilaku politik aktor internasional. Hal inilah yang menurut penulis menjadi state of art dari ilmu Hubungan Internasional. Sifatnya yang multidisipliner tersebut tidak menjadikannya sebagai studi yang tumpang-tindih ketika kita dapat menerapkan koherensi analisis yang terstruktur sehingga dapat diperoleh hasil analisis yang ilmiah.

Dari penjabaran tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa Hubungan Internasional merupakan sebuah wisdom yang memberikan penjelasan mengenai relasi antara aktor internasional dalam hubungan yang lintas batas. Namun dalam prosesnya, mulai dari kemunculannya hingga saat ini, perkembangan yang ada begitu pesat. Sebagaimana yang diungkapkan oleh para scholars bahwa terdapat metode-metode yang dapat membuat Hubungan Internasional berkembang dan menjadi bagian dari social science. Penulis menekankan adanya aliran behavioralis dalam hal ini yang mendukung Hubungan Internasional sebagai sebuah sains dengan menghasilkan teori-teori dalam berbagai pendekatan, yang menurut penulis cukup membuktikannya sebagai sebuah sains. Namun ia juga merupakan wisdom di sisi lain ketika ia mampu menjelaskan fenomena di masa lalu.

 

Referensi:

Jackson, Robert & Sorensen, Georg. 1999. Pengantar Studi Hubungan Internasional [terj.]. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Cetakan kedua, 2009.

Mc Clelland, Charles A, 1969. “International Relations: Wisdom or Science?”, dalam James N. Rosenau, International Politics and Foreign Policy, NewYork, The Free Press, hlm. 3-5

Platig, E. Raymond, 1967. “International Relations as a Field of Inquiry”, dalam James N Rosenau, International Politics and Foreign Policy, New York, The Free Press, hlm. 6-19

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :