INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif

Oleh: Indira Agustin (071012006) 

Secara umum terdapat dua metode yang digunakan untuk melakukan penelitian ilmiah, yaitu metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Terdapat beberapa perdebatan mengenai penggunaannya dalam sebuah penelitian. Kali ini akan dibahas perdebatan mengenai penggunaan metode yang tepat dalam penelitian Hubungan Internasional, yakni manakah yang lebih tepat antara menggunakan salah satu metode secara terpisah ataupun mengkombinasikan kedua metode secara bersamaan. Adapun Uwe Flick, Russel J. Lang, dan Jack S. Levy merupakan beberapa diantara ilmuwan yang menuangkan pemikirannya dalam hal ini.

Jack S. Levy (2002) dalam artikelnya Qualitative Methods in International Relations menjelaskan bahwa yang menjadi fokus metode penelitian kualitatif dalam bidang kelimuan hubungan internasional berada pada tataran komparasi dan studi kasus dari perspektif positivis. Berawal dari berkembangnya metode penelitian kualitatif pada tahun 1950 hingga 1960an yang lebih mendekati pendekatan sejarah dibandingkan dengan pendekatan teoritis, sehingga lebih subjektif dan tidak dapat difalsifikasi (Levy, 2002:131). Dalam ranah hubungan internasional sendiri Levy (2002) menekankan bahwa sebuah kasus dapat diartikan sebagai serangkaian persitiwa yang terikat ruang dan waktu. Misalnya adalah serangkaian peristiwa Perang Dunia I. Akan tetapi bagaimanapun kasus merupakan sebuah konstruksi analisis, “they are made, not found, invented, not discovered” (Levy, 2002:134).

Terdapat tiga jenis klasifikasi kasus dalam metode kualitatif, antara lain (1) atheoretical atau configurative idiographic, yakni kasus deskriptif yang tradisional, induktif, dan historisis, sehingga lebih memandang kasus sebagai sebuah sarana penjelasan tunggal daripada sarana pengembangan atau generalisasi teori; (2) interpretive atau disciplined-configurative, yakni kasus tidak terlalu berfokus pada sisi historis, namun lebih terstruktur berdasarkan kerangka teoritis, yang dijelaskan oleh adanya realitas, sehingga dalam hal ini sebuah studi kasus dapat berkontribusi pada penyusunan teori secara deduktif; dan (3) deviant case studies, yakni kasus yang berfokus pada adanya penyimpangan empiris (empirical anomalies) terhadap teori yang sudah ada sebelumnya dan berusaha untuk memberikan hipotesis yang lebih sesuai, untuk menghasilkan teori yang yang lebih valid (Levy, 2002:134-7). Lebih lanjut Levy (2002) mengenalkan sebuah pendekatan yang membantu peneliti untuk menganalisis studi kasus, yaitu process tracing, yang berusaha untuk menemukan mekanisme-mekanisme penyebab antara kondisi dengan hasil yang diakibatkannya melalui analisis serangkaian peristiwa dalam sebuah kasus. Sehingga dapat dikatakan bahwa metode kualitatif lebih berfokus pada penggambaran, penjelasan, dan pemahaman atas suatu peristiwa dalam sejarah, dalam rangka pengembangan serta perbaikan teori.

Sementara itu Russell J. Leng (2002) dalam artikelnya Quantitative International Politics and Its Critics: Then and Now mencoba menjelaskan metode penelitian kuantitatif dalam studi Hubungan Internasional. Berangkat dari komplain Hedley Bull atas metode penelitian ilmiah, yang diantaranya adalah (1) kesepelean atau trivialitas (triviality), (2) kegagalan pencapaian pengetahuan kumulatif, dan (3) bahaya substitusi pemahaman metodologi atas konten pengetahuan yang dicapai oleh ilmuwan dalam kurun waktu berabad-abad (Leng, 2002:117). Akan tetapi hal ini ditepis oleh James Rosenau yang mengklaim sebagai generasi pertama penstudi Hubungan Internasional, dengan menyatakan bahwa kritik yang dinyatakan oleh Bull kurang tepat. Sebab perang, misalnya, beserta dampak yang dihasilkannya dalam konteks perpolitikan dunia bukan merupakan hal yang sepele. Namun Leng (2002) sepakat atas kritik Bull yang menyatakan pergeseran pemahaman konten ke arah metodologis, yang seharusnya justru memperoleh porsi yang lebih besar. Hal ini kemudian menjadi kritik bagi metode kuantitatif yang terlalu menekankan kuantitas dan metode yang baku.

Dalam kaitannya dengan studi Hubungan Internasional, Leng (2002) menyatakan bahwa metode kuantitatif dapat dijelaskan melalui fenomena politik yang tangible dan relatif statis, seperti seberapa banyak pasukan bersenjata yang dimiliki oleh suatu negara, jumlah perwakilan diplomatik suatu negara, atau bahkan jumlah pemasukan nasional suatu negara  (Leng, 2002: 118). Analisis metode kuantitatif ditentukan dengan seberapa besar jumlah atau kuantitas atas variabel-variabelnya. Semakin intangible dan dinamis suatu variabel, maka ia akan sulit untuk dianalisis secara kuantitatif. Sementara itu dalam hal politik, terdapat banyak hal yang cenderung intangible dan dinamis, misalnya tingkat perluasan konflik atau pengaruh strategi dari negara tandingan dalam sebuah konflik (Leng, 2002: 118). Untuk dapat menganalisisnya diperlukan pertimbangan kualitatif yang dibantu oleh penemuan empiris atas objek penelitian. Namun hal ini akan memberikan bias atas persepi yang dimiliki oleh peneliti, sebagaimana dikemukakan oleh Leng, “…description of reality can never be entirely free of preconceptions” (Leng, 2002: 120). Dalam hal ini terlihat bahwa Leng mendukung perlunya mengintegrasikan metode kuantitatif dengan kualitatif dalam sebuah penelitian ilmiah.

Adapun Uwe Flick (2006) yang berusaha untuk membandingkan serta menghubungkan kedua metode tersebut melalui artikelnya Qualitative and Quantitative Research. Flick (2006) menjelaskan bahwa perbedaan antara metode kualitatif dan kuantitatif berada pada tujuan penelitian ilmiahnya. Metode kualitatif digunakan untuk meneliti suatu hal yang mendalam dan membutuhkan penjelasan yang mendalam dan deskriptif (micro sociological questions), sementara metode kuantitatif digunakan dalam penelitian atas frekuensi atau data statistik suatu hal yang membutuhkan data kuantitas (macro sociological questions). Namun keduanya dapat pula dikombinasikan, dengan menggunakan metode kuantitatif sebagai metode awal, untuk kemudian diperdalam dengam metode kualitatif (Flick, 2006:33). Di samping itu, Flick (2006) juga menekankan bahwa metode kualitatif lebih dominan dan diperlukan, dengan mengutip Kleining (1992), “…qualitative methods can live very well without the latter use of quantitative methods, whereas quantitative methods need qualitative methods for explaining the relations they find” (Flick, 2006:35).

Dari beberapa pandangan di atas mengenai dua metode penelitian yaitu kualitatif dan kuantitatif, dapat diperoleh kesimpulan bahwa dalam penelitian Hubungan Internasional metode penelitian kualitatif lebih dominan dan diperlukan dalam sebuah penelitian ilmiah, khususnya dalam ranah supaya diperoleh hasil penelitian yang deskriptif dan mendetail secara ilmiah. Namun metode penelitian kuantitatif tetap diperlukan untuk sekedar memberikan data statistik yang diperlukan saat penelitian. Sebab metode kualitatif memiliki kelemahan apabila ia diterapkan sendiri tanpa diiringi metode kuantitatif, seperti adanya sifat subjektif peneliti, sifat cenderung historis-sentris yang tidak dapat difalsifikasi. Sementara metode kuantitatif dapat berfungsi sebagai penyeimbang supaya penelitian tetap bersifat objektif, oleh karena perolehan datanya yang bersifat independen.

 

Referensi:

Flick, Uwe. 2006. “Qualitative and Quantitatif Research” dalam An Introduction to Qualitative Research. London: SAGE Publication, hlm. 32-43

Leng, Russell J, 2002. “Quantitative International Politics and Its Critics: Then and Now”, dalam Frank P. Harvey and Micheal Brecher (ed.), Evaluating Methodology in International Studies, Ann Arbor: the University of Michigan Press, hlm. 116-130

Levy, Jack. S. 2002. “Qualitative Methods in International Relations”, dalam Frank P. Harvey and Micheal Brecher (ed.), Evaluating Methodology in International Studies, Ann Arbor: the University of Michigan Press, hlm.131-160

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :