INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

Peranan Perusahaan Agensi dalam Ekonomi Politik Internasional

Perusahaan Multinasional sebagai Agensi dalam Ekonomi Politik Internasional

 

Sistem yang ada pada ekonomi politik internasional membutuhkan agensi-agensi untuk dapat menjalankan mekanisme yang ada. Aktor tersebut dapat berupa aktor maupun suatu hal yang vital dalam pelaksanaan sistem yang ada. Era globalisasi menyebabkan terintegrasinya aktivitas ekonomi politik di dunia internasional. Di mana peranan perusahaan multinasional (MNC—Multinational Corporation) dianggap memiliki peranan vital dalam hal ini. Berbagai transaksi ekonomi yang pada umumnya dilakukan dalam skala nasional bergeser menjadi internasional tidak lain sebagai akibat peranan dari MNC. Beberapa perspektif memiliki pandangan yang berbeda-beda terhadap peranan MNC sebagai agensi dalam ekonomi politik internasional.

Kemunculan MNC dapat ditelusuri semenjak masa kolonialisme, dalam bentuk korporasi gaya lama a la British East India Company (BEIC) maupun Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), yang melakukan ekspansi pasar melalui ekspedisi dan menggunakan sistem saham gabungan (limited liability). Produksi utama berkisar pada produk-produk agrikultur, yang seiring berjalannya waktu, dan hadirnya revolusi industri, produksi manufaktur semakin berkembang. Untuk dapat beroperasi dan melakukan perjalanan ekspansif, mereka mendapat dukungan negara, bahkan dengan dukungan berupa persenjataan, sehingga kekuasaan yang dimilikinya lebih besar dengan diperbolehkannya membentuk pasukan tentara sendiri, serta kebijakan luar negeri yang menjadi kontrol sendiri. MNC tersebut kemudian berhak melakukan transaksi dagang dengan institusi maupun pihak perseorangan di negara lain. Hal tersebut menunjukkan adanya peranan MNC dalam perekonomian politik internasional di masa lalu.

Pada masa globalisasi yang berbasis teknologi informasi seperti saat ini, MNC melakukan peranannya dengan melakukan investasi langsung ke negara lain, yaitu melalui Foreign Direct Investment (FDI) dan portofolio. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan perluasan pasar, di mana sebelumnya dapat dilakukan pembukaan cabang di host country, maupun melakukan merger dengan perusahaan domestik suatu negara. Dengan demikian, perekonomian suatu negara tentu saling ketergantungan dengan perekonomian negara lain. Dengan melakukan investasi langsung (FDI), berarti MNC terlibat secara langsung ke dalam proses produksi hingga pemasaran. Sementara portofolio berarti tidak terdapat akses secara langsung, seperti deposito, sehingga pengaruh yang dimiliki tidak terlalu besar, sebab hanya berorientasi pada pencapaian keuntungan semata (Gilpin 2001). FDI dianggap dapat memberikan keuntungan yang tinggi, sebab ia mengurangi biaya produksi yang langsung dilaksanakan di lokasi sumber daya berada, dengan memanfaatkan teknologi yang ada.

Sebagaimana yang sempat dikatakan sebelumnya, terdapat beberapa perspektif yang memandang peranan MNC secara berbeda dalam kajian ekonomi politik internasional. Secara umum terdapat tiga perspektif besar, yaitu marxis, state-centric, dan neoliberalisme.  Magdoff (1978) menjelaskan bahwa perspektif marxisme bahwa MNC membawa sistem perekonomian ke arah kapitalisme monopoli internasional yang menimbulkan persoalan perjuangan kelas, yang dalam hal ini terwujud dalam struktur modern world system yang membagi negara-negara ke dalam kelas maju (core) yang terdiri atas negara-negara kaya serta berkembang atau kurang berkembang (periphery) yang terdiri atas negara-negara miskin, sebagaimana dikenalkan oleh Wallerstein. Gilpin (2001) menjelaskan bahwa perspektif state-centric berargumen bahwa keberadaan dan keberhasilan MNC dalam dunia modern didukung oleh adanya lingkungan politik internasional yang baik, yang diciptakan oleh kekuatan dominan dalam sistem ekonomi terbuka dan liberal (Gilpin 2001). Sehingga saat kekuatan dominan itu mengalami kejatuhan, maka peranan MNC dalam perekonomian internasional pun akan ikut menurun. Sistem hegemoni MNC ini tidak lain dilatarbelakangi oleh kekuatan suatu negara yang memang mendominasi perekonomian internasional. Akan tetapi meski demikian masih terdapat perusahaan-perusahaan multinasional yang sahamnya dimiliki oleh pihak dari banyak negara sehingga sulit untuk melakukan nasionalisasi perusahaan multinasional tersebut. Sementara perspektif neoliberalisme memandang keberadaan MNC dalam sistem perekonomian internasional adalah membawa kebaikan dan kesejahteraan,sebab ia turut membawa nilai-nilai budaya serta penyebaran individu-individu di berbagai tempat. Sehingga pengaruh kemajuan ekonomi dirasakan tidak hanya oleh sekelompok orang di lokasi tertentu, melainkan secara meluas (Robinson 2004).

Dapat ditarik kesimpulan bahwa MNC memang memiliki peranan yang cukup signifikan dalam integrasi ekonomi politik internasional, meski terdapat beberapa pendangan yang dapat melemahkan argumen tersebut. Di satu sisi MNC dianggap berkontribusi terhadap ekspansi atau transfer teknologi dari negara maju ke negara berkembang. Namun di sisi lain MNC dianggap memiliki agenda kapitalisme monopolistik yang bertujuan untuk melakukan eksploitasi besar-besaran atas sumber daya alam di tempat di mana mereka melakukan investasi langsung, yang dalam jangka panjang akan mengakibatkan timbulnya kesenjangan yang lebar antara negara kaya penghasil manufaktur hasil olahan sumber daya mentah yang diproduksi oleh negara miskin. Dalam opini penulis, hubungan antara MNC dengan negara tidak terpisahkan dalam era perdagangan bebas seperti saat ini. Di mana keduanya saling memerlukan untuk dapat tetap bertahan. Negara membutuhkan MNC untuk mendapatkan devisa, MNC membutuhkan negara sebagai otoritas penjamin aktivitasnya. Akan tetapi MNC dapat menjadi suatu ancaman politis bagi negara dalam sebuah kasus moral hazard misalnya. Meskipun MNC merupakan kajian dalam ekonomi politkm internasional, namun ia tidak dapat dijelaskan secara independen, sebab ia memiliki banyak keterkaitan dengan aktor lain.

 

Referensi:

Harry Magdoff. 1978. "The Multinational Corporation and Development—A Contradiction?", dalam Imperialism: From the Colonial Age to the Present, New York: Monthly Review Press,  pp. 165-197

Gilpin, Robert. 2001. "The State and The Multinationals", dalam. Global Political Economy: Understanding the International Economic Order, Princeton: Princeton University Press, pp. 278-304

Robinson, William I. 2004. "Global Class Formation and the Rise of a Transnational Capitalist Class", dalam A Theory of Global Capitalism: Production, Class, and State in a Transnational World, Baltimore: the John Hopkins University Press, pp. 33-84

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :